ILMU TASHWUF AHWAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  LATARBELAKANG
Pada dasarnya dalam konsep ahwal memperkenalkan bagian dari pemahaman tasawuf itu sendiri sebagai dimana dimaknakan suatu perjalanan spiritual suluk. Dalam hal ini HAL adalah keadaan-keadaan spiritual sesaat yang dialami oleh para pejalan atau sufi ini ditengah-tengah perjalanan tersebut.
Tujuan yang mendasar dari perkuliahan mata kuliah Tasawuf ini adalah diharapkan agar peserta didik (mahasiswa) dapat memahami apakah pengertian dari Tasawuf tersebut, dan dapat mengetahui pula bagaimana perkembangannya dari dahulu hingga sekarang, serta mampu merasakan manfaat sebenarnya dan tujuan dari mempelajari Tasawuf itu sendiri.
Dan tujuan khusus dalam pembuatan makalah ini diharapkan agar peserta didik (mahasiswa ) tersebut mampu dan mengerti dalam menyebutkan definisi Ahwal ,dan Ahwal dimata para tokoh Tasawuf serta sejarah perkembangan Tasawuf.

1.2     RUMUSAN MASALAH
  1. Pengertian  Ahwal
  2. Kedudukan Ahwal
  3. Tahapan-Tahapan  Ahwal

1.3    TUJUAN PEMBAHASAN
  1. Untuk Mengetahui Pengertia Ahwal
  2. Untuk Mengetahui Kedudukan Ahwal
  3. Untuk Mengetahui Tahapan-Tahapan Ahwal


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akhwal

Ahwal adalah bentuk jamak dari hal. Seperti halnya maqam, hal (state) digunakan kaum sufi untuk menunjukkan kondisi spiritual. Kata hal dalam prespektif tasawuf sering diartikan dengan “keadaan”, maksudnya adalah keadaan atau kondisi spiritual. Hal, sebagai suatu kondisi yang singgah dalam kolbu merupakn efek dari peningkatan maqamat seseorang. Secara teoritis, memang bisa dipahami bahwa seorang hamba kapanpun ia mendekat pada Allah dengan cara berbuat kebajikan, ibadah, riyadhah, dan mujahadah, maka Allah akan memanivestasikan dirinya dalam kalbu hamba tersebut[1].
Secara lebih jauh, al-Qusyairi melihat bahwa hal merupakan arti yang intuitif dalam hati; tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau brontak, rasa takut atau suka cita. Maka setiap hal, kata al-Qusyairi merupakan karunia (mawahib), dan seytiap maqam adalah upaya (makasib). Hal, datang dari wujud itu sendiri, sedang maqam diperoleh melalui upaya perjuangan. Senada dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri berpandapat bahwa hal ialah sesuatu yang turun dari tuhan ke dalam hati manusia, tanpa ia mampu   menolaknya bila datang, atau meraihnya bila pergi, dengan ikhtiarnya sendiri . Maka, lanjut al-Hujwiri, sementara istilah maqam menunjuk kepada jalan sang pencari, istilah hala menunjuk kepada nikmat dan kemurahan yang tuhan anugrahkan kepada hati hambanya, dan yang tidak berkaitan dengan kezuhudan sang hamba.
Oleh karenanya, maqam termasuk dalam kategori tindakan, sedang hal termasuk dalam kategori anugerah.
Senada dengan kedua sufi diatas, Ibnu ‘Arabi (w.638H./1240 M.) Menyebut hal (keadaan) adalah setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti kemabukan, fana’ (hilang kesadaran diri), ketidakhadiran dan ridha; eksistensinnya bergantung pada sebuah kondisi. Ia menjadi sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada.
Al-Sarraj, sebagai sufi yang hidup lebih dahulu dari para sufi diatas, memandang bahwa ahwal adalah “Apa-apa yang bersemayam didalam kalbu dengan sebab dzikir yang tulus”. Ada yang mengatakan bahwa hal adalah zikir yang lirih (khafiy), sebagaimana Hadist nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik dzikir adalh yang lirih (khayr al-dzikir al-khafy).
Menurut al-Saraj, al-Junaid juga melihat bahwa hal bertempat di dalam kalbu dan tidak kekal. Dalam pandangan al-Sarraj, hal tidak diperoleh melalui ibadah, riyadhah da mujahadah sebagaimana maqamat, melainkan anugerah Allah.
Al- Ghazali kelihatannya juga memilimki pandangan yang mirip dengan para sufi pendahulunnya diatas. Ia menyatakan, apabila seseorang telah tetap dan mantap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu, dan itulah hal. Hal nampak cepat berubah. Ia mencontohkan tentang warna kuning yang dapat dibagi dua bagian. Warna kuning yang tetap, seperti warna kuning yang ada pada emas dan warna kuning yang cepat berubah yakni warna kuning yang ada pada sakit kuning. Begitu pula perasa’an, kondisi dan sifat hati. Kadangkala mempunyai sifat tetap dan mempunyai sifat berubah. Kondisi, sifat dan perasaan hati yang tetap di sebut maqam dan yang mempunyai sifat berubah dinamakan hal.
Abdullah ibn ‘Alaawy al-Haddad (w.1720 M.) mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandanagan para sufi diatas. Menurut al-Haddad, ahwal adalah suatu kondisi baatin yang dialami seorang sufi dalam keadaan belum mantap, kemudian ketika kondisi batin itu telah mantap maka disebutlah maqam. Ahwal, dalam pandangan al-Haddad dapat diperoleh seseorang karewna pengaruh dari ilmu, sebab ilmu dapat membuahkan hal dan hal menghasilkan maqam.
Mayoritas kaum sufi membedakan antara maqam dan hal secara literal. Hal disebut demikian karena berubah-ubahnya (li-tahawwulihi), sedang maqam dinamakan demikian karena keadannya tetap dan permanen (li tsubutihi wa istiqrarihi). Dengan demikian maqam adalah tetap sedang hal senantiasa berubah.
Al-Sarraj dan kebanyakan kaum sufi  beberapa sudah disebut diatas sepakat bahwa hal merupakan karunia (mawahib), dan seytiap maqam adalah upaya (makasib). Hal, datang dari wujud itu sendiri, sedang maqam diperoleh melalui upaya perjuangan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, maqam berarti menunjuk kepada sebuah kerja aktif sedang seseorang yang menerima hal adalah pasif dalam keadaannya. Namun ada yang mengatakan, perbedaan ini hanya pada tatanan teoritis belaka dan tidak mempengaruhi pada aspek praktinnya.
            Menurut syekh Abu Nash As-sarraj, hal (AHWAL) adalah sesuatu yang terjadi yang mendadak yang bertempat pada hati nurani dan tidak bertahan lama.
Menurut harun nasution, dalam Bukunya abuddin Nata Akhlak Tasawuf. Hal atau akhwal merupakan keadaan mental perasaan senang, perasaan takut, perasaan sedih, dan sebagainya. [2]

Dari banyak pendapat para sufi serta sholihuna di atas, dapat di simpulkan bahwasannya ahwal merupakan suatu keadaan seorang sufi semasa ia menjalani maqamnya. Dimana keadaan tersebut merupakan oleh kekuasaan Allah swt. dan anugerah-Nya, bukan di sebabkan oleh usahanya sendiri. Ahwal terdiri dari beberapa macam, diantara macam-macam hal yaitu : muroqobah,khauf,  roja’, syauq, mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin.

2.2 Kedudukan Ahwal
Dari pemaparan tentang pengertian ahwal yang kami haturkan diatas, dapat kita sama sama ketahui bahwasannya ahwal merupakan keadaan hati seorang sufi terhadap Sang Kholik. Dengan demikian bisa di katakana kedudukan ahwal dalam tashawuf merupakan suatu yang amat penting, yang harus ada pada hati seorang sufi. Jika ia ingin di lihat atau di pandang sebagai seorang sufi.
Sebuah kisah sahabat nabi yaitu syaidina Ali bin Abi Tholib ra. Terkait kekhusukannya dan ketakutan Ali kepada Allah swt. Kemudian intensitasnya menghadap Allah swt. Dengan bermacam-macam ibadah, dan perasaannya yang sempurna akan penghambaan hakiki kepada Allah swt. Tak ada yang lebih paten menunjukannya dari pada atsar tentang dirinya yang menceritakan bahwa setiap waktu sholat tiba, hati Ali menggigil dan kulitnya langsung berubah pucat. Ketika ditanya tentang hal itu ia menjawab”, Inilah waktu amanah yang semula di tawarkan Allah swt. Kepada langit, bumi, dan gunung, namun mereka menolak memikulnyadan mengiba darinya maka dipikullah amanat itu oleh manusia, dan aku tidak tahu apakah aku telah memikul amanah itu dengan baik atau tidak?[3].’ Dari kisah ini menggambarkan betapa besar rasa takut yang di tunjukan oleh sahabat ini. Itu menandakan bahwa syaidina Ali sudah mendapatkan Ahwal. Seperti yang kami uraikan diatas.

2.3 Bentuk-Bentuk Ahwal Dalam Tashawuf
Imam al-Junaid menjelaskan mengenai ahwal dalam tashawuf , ia mengatakan bahwa prilaku-prilaku spiritual (al-ahwal) yang bersama-sama dengan maqamat merupakan inti hakikat tashawuf.[4]
Adapun bentuk-bentuk ahwal ialah sebagai berikut:
1.      muraqabah
Dari segi bahasa muraqabah berarti pengawasan dan pantauan. Karena sikap muraqabah ini mencerminkan adanya pengawasan dan pemantauan Allah terhadap dirinya.
Adapun dari segi istilah, muraqabah adalah, suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya, melihatnya, mendengarnya, dan mengetahui segala apapun yang dilakukannya dalam setiap waktu, setiap saat, setiap nafas atau setiap kedipan mata sekalipun. Allah swt. Berfirman dalam al-qur’an surat

Syekh Ibrahim bin Khawas mengatakan, bahwa muraqabah “adalah bersihnya segala amalan, baik yang sembunyi-sembunyi atau yang terang-terangan hanya kepada Allah.” Beliau mengemukakan hal seperti ini karena konsekwensi sifat muraqabah adalah berperilaku baik dan bersih hanya karena Allah, dimanapun dan kapanpun[5]
Salah seorang ulama juga mengungkapkan bahwa muraqabah ini merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah dengan pemahaman sifat “Arraqib, Al-Alim, Assami’ dan Al-Bashir” pada Allah SWT.

Maka barang siapa yang memahami Sifat Allah ini dan beribadah atas dasar konsekwensi Sifat-sifat-Nya ini; akan terwujud dalam dirinya sifat muraqabah.
Pada intinya, sikap ini mencerminkan keimanan kepada Allah yang besar, hingga menyadari dengan sepenuh hati, tanpa keraguan, tanpa kebimbangan, bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya, setiap langkahnya, setiap pandangannya, setiap pendengarannya, setiap yang terlintas dalam hatinya, bahkan setiap keinginannya yang belum terlintas dalam dirinya. Sehingga dari sifat ini, akan muncul pengamalan yang maksimal dalam beribadah kepada Allah SWT, dimanapun ia berada, atau kapanpun ia beramal dalam kondisi seorang diri, ataupun ketika berada di tengah-tengah keramaian orang.
Macam-macam Sifat Muraqabah
Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan mengemukakan dalam ‘Tarbiyah Ruhiyah; Petunjuk Praktis Mencapai Derajat Taqwa’ ; ada empat macam bentuk muraqabah, yaitu:
a.Muraqabah dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan segala perintah-Nya Seperti benar-benar menfokuskan tujuan amal ibadahnya hanya kepada Allah dan karena Allah, dan bukan karena faktor-faktor lainnya. Karena ia menyadari bahwa Allah Maha mengetahui segala niatan amalnya yang tersembunyi di balik relung-relung hatinya yang paling dalam sekalipun. Sehingga ia mampu beribadah secara maksimal, baik ketika sendirian ataupun di tengah-tengah keramaian.
b.Muraqabah dalam kemaksiatan, dengan menjauhi perbuatan maksiat, bertaubat, menyesali perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukannya dan lain sebagainya. Sikap seperti berangkat dari keyakinannya bahwa Allah mengetahuinya, dan Allah tidak menyukai hamba-Nya yang melakukan perbuatan maksiat. Sekiranya pun ia telah melakukan maksiat, ia akan bertaubat dengan sepenuh hati kepada Allah dengan penyesalan yang mendalam, karena Allah akan murka pada dirinya dengan kemaksiatannya itu.
c.Muraqabah dalam hal-hal yang bersifat mubah, seprti menjaga adab-adab terhadap Allah, bersyukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan-Nya pada kita, bermuamalah yang baik kepada setiap insan, jujur, amanah, tanggung jawab, lemah lembut, perhatian, sederhana, ulet, berani dan lain sebagainya. Sehingga seorang muslim akan tampil dengan kepribadian yang menyenangkan terhadap setiap orang yang dijumpainya. Dan jadilah ia sebagai seorang dai yang disukai umatnya.
d.Muraqabah dalam musibah yang menimpanya, yaitu dengan ridha pada ketentuan Allah SWT serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesabaran. Ia yakin bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang datang dari Allah dan menjadi hal yang terbaik bagi dirinya, dan oleh karenanya ia akan bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.[6]
Menuru al-Sarraj, ahli muraqabah itu dalam muraqabahnya terbagi atas tiga tingakatan. 
a.       Tingkatan Pertama
Adalah tingkatan ibtida’. Kelompok ini seperti yang disebut Hasan ibn ‘Ali al-Damaghani bahwa bagi sang hamba hendaknya senantiasa menjaga rahasia-rahasia hati karana Allah selalu mengawasi setiap apa-apa yang tersirat dalam batin. 
b.      Tingkatan Kedua
Dalam muraqabah di tunjukkan oleh ibn ‘Atha yang mengatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang senntiasa mengawasi Yang Haq dengan Yang Haq di dalam fana’ kepada selain yang haq dan senantiasa mengikuti nabi Muhammad SAW. Dalam perbuatan, akhlak dan adabnya. Artinya, sang hamba memilki kesadaran penuh bahwa sebaik pengawasan adalah pengawasan Allah, tidak nsedikitpun terbesit adannya pengawasan yang lain , dan bagi hamba hendaknya ia lebur bersama-Nya.
c.       Tingkatan Ketiga
Dari ahli muraqabah adalah hal-al kubara’ (orang-orang agung), yakni mereka yang senantiasa mengawasi Allah dan meminta kepada-Nya untuk menjaga mereka dalam muraqabah dan Allah sendiri sudah menjamin secara khusus hamba-hamba-Nya yang mulia itu untuk tidak mempercayakan mereka dan segala kondisi mereka kepada selain diri-Nya, dan hanya Allah saja yang melindungi mereka, seperti firman-Nya, 
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh”.  (QS. Al-A’raf:196).

2.       Qurb
Secara literal, qurb berarti dekat darinnya dan kepadanya. Menurut sari al-saqathi, qurb(mendekatkan diri kepada Allah) adalah taat kepada-Nya. Sementara ruwaym ibn Ahmad ketika ditanya tentang qurb, menjawab, “menghilangkan setiap hal yang merintangi dirimu untuk bersama-Nya.

Dalam pandangan al-sarraj, qurb adalah penyaksian sang hamba dengan hatinya akan kedekatan Allah kepada-Nya, maka ia mendekat kepada Allah dengan ketaatanya, dan mengerahkan segala keinginannya kepada Allah semata dengan cara mengingatnya secara kontinu baik pada keramaian maupun dikala sendiri. Kedekatan allah kepada hambanya banyak disebut dalam firmanNya seperti:
       





Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS.Al-Baqarah:186)

3.      Mahabbah
Cinta (mahabbah) adalah pijakan atau dasar bagi kemuliaan hal. Seperti halnya taubat yang menjadi dasar bagi kemuliaan maqam.Al-Junaid menyebut mahabbah sebagai suatu kecenderungan hati. Artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dariNya tanpa usaha. Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah (95 H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah. Swt.
Allah berfirman dalam al-quran surat al-imron:31

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم والله غفور رحي
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mahabbbah mempunyai tiga tingkatan
a.       Tingkatan pertama ini pada intinnya mengandung 3 hal yakni
Mengerahkan ketaatan pada Allah dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
Menyerahkan diri kepada sang kekasih secara total
  Mengosongkan hati dari segala sesuatu yang dikasihi.
b.      Tingkatan kedua
Adalah pandangan hati, keagungan, pengetahuan, dan kekuasaan-Nya. Itulah cinta orang yang  jujur kepada Allah dan orang yang telah menemukan kebenaran dan pengetahuan sejati tentang tuhan.
c.       Tingkatan ketiga
Adalah cintannya orang yang bersikap benar kepada Allah (shiddiqun) dan orang yang mengenal Allah dengan mata hatinnya (arifin).

4.      Khauf (takut kepada Allah.swt)
Perasan takut kepada Allah swt. menurut Al-Junaidi seyogianya memenuhi segenap diri seorang hamba sehingga ia selalu mawas diri mengantisipasi kemungkinan jatuhnya siksa Allah swt. Setiap saat. Saat di tanya tentang takut imam Al-Junaidi menjawab,’Takut adalah mengantisipasi turunya siksa setiap saat nafas mengalir.
Taat kepada Allah swt. Memacu seseorang untuk tidak cepat puas dengan amal-amal salehnya, atau dengan bahasa lain ia bisa membebaskan dirinya dari rasa ‘ ujub’ (membangga-banggakan diri).[7]

Khawf berkaitan dengan raja’. Seorang hamba yang dekat dan intim dengan Allah akan merasa ketakutan yang luar biasa kepada-Nya. Takut akan ancaman dan siksa-Nya, takut berpisah, dijauhi oleh-Nya, sehingga terputus dari rahmat-Nya dan hilang rasa nikmat bersama-Nya. Namun pada saat bersamaan sang hamba juga merasakan raja’, harapan yang besar akan limpahan dan ampunan, kasih sayang, dan karunia Allah.            

5.      Raja’ (berharap penuh kepada Allah swt)
Menurut kalangan kaum sufi, raja’ dan khauf berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme, yaitu peresaan senang hati menaati sesuatu yang diinginkan dan disenangi.
Abu Ali Al-Rudzbari  memandang Khawf dan Raja’ seperti sepasang sayap burung. Apalabila takut dan harap keduanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya. Raja’ berarti suatu sikap mental optimism dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalam pandangan Al Sarraj, Raja’ merupakan hal yang mulia. Kemuliaan hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya,
   




Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21).
 Orang yang harapan dan penantiannya mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapan benar. Sebaliknya, jika harapannya hanya angan-angan, sementara ia sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapannya sia-sia.

Raja’ menuntut tiga perkara, yaitu:
a. Cinta kepada apa yang diharapkannya.
b. Takut bila harapannya hilang.
c. Berusaha untuk mencapainya.

Raja’ yang tidak di barengi dengan tiga perkara itu hanyalah ilusi atau hayalan. Setiap orang yang berharap adalah juga orang yang takut (khauf). Orang yang berharap untuk sampai di suatu tempat tepat waktunya, tentu ia takut terlambat.
Dan karena takut terlambat, ia mempercepat jalannya. Begitu pula orangyang berharap rida atau ampunan Tuhan, diiringi dengan rasa tahut akan siksaan Tuhan.
6.      Syauq (rindu Allah swt)
Secara literal, syawq berarti lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Menurut Suhrawardi, syauq merupakan bagian-bagian dari mahabbah, seperti halnya zuhud bagian dari tobat. Jika mahabbah sudah mantab akan tampak pula syauq. Menurut Abu Utsman siapa yang cinta kepada Allah dia akan merindu hendak berjumpa dengan-Nya. Rasa rindu tak mungkin ada pada yang mencinta. Sementara itu, Dzunun memandang  syauq sebagai derajat atau maqom tertinggi. Jika sang hamba sudah mencapai derajat Syauq ini mati rasanya mudah dan ringan karena kerinduan kepada Tuhannya dan harapan hendak berjumpa dengan-Nya.
Menurut Al-Junaidi syauq adalah kondisi emosional yang memacu si perindu pada hasrat yang menggebu-gebu untuk mencapai kebersamaan (al-wishal), meski apa pun rintangan yang menghadang perjalanannya menuju Allah swt. Al-Junaidi mendapat cerita bahwa Nabi Yunus as. Pernah berkata “ demi kebesaran-Mu, andai antara aku dan Kau terbentang lautan api, niscaya tetap akan ku sebrangi demi kerinduan kepada-Mu.[8] Begitulah sebenarnya konsep rindu yang di benarkan oleh agama kita.
7.      ath-thuma’minah
Thuma’minah adalah rasa tenang, tidak was-was atau khawatir. Seseorang yang telah mencapai thuma’minah, ia telah kuat akalnya, kuat imanya dan ilmunya serta bersih ingatanya.
Thuma’ninah terbagi menjadi 3 tingkatan.
  1. Pertama adalah kaum awam. Mereka merasa tenang jika menyebut-Nya.
  2. Kedua, Kelompok khushus(khusus). Mereka tenang karena rela dengan ketetapan-Nya, sabar dengan , musibah-Nya, bertakwa, ikhlas, dan damai.
  3. Ketiga, kelompok istimewa (khusus al khusus) mereka mengetahui bahwa rahasia-rahasia yang ada pada mereka tidak akan mampu membuat tenang kepada-Nya, karena rasa agung dan segan yang hinggap dihati mereka. Menurut mereka, Allah tidak memiliki akhir yang mungkin dicapai.


Begitu juga menurut Al-Sarraj tuma’ninah adalah ahwal yang paling tinggi.  Thuma’ninah bagi sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya, bersih ingatannya dan kokoh realitasnya (haqiqat). firman Allah tentang Thuma’ninah, diantaranya:
·          



”Ya” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Al-Ra’du:28)

8.      Al-‘Uns
Dalam tasawuf ‘Uns berarti keakraban atau keintiman menurut Abu Sa’id Al Kharraj ‘Uns adalah perbincangn roh dengan Sang Kekasih pada kondisi yangs sangat dekat. Dzunun memandang ‘Uns sebagai perasaan lega yang melekat pada sang pencinta terhadap Kekasihnya. Salah seorang pemuka thabi’in menulis surat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz,”Hendaknya keakrabanmu hanya dengan Allah semata dan putuskan hubungan selain dengan-Nya.”.  Menurut Al-Sarraj, ‘Uns bersama Allah bagi seorang hamba adalah ketika sempurna kesuciannya dan benar-benar bening zikirnya serta terbebas dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.

Orang-orang yang intim itu terbagi atas tiga tingkatan.[9]
  1. Pertama, mereka yang merasa intim dengan sebab zikir dan jauh dari kelalaian, merasa intim dengan sebab ketaatan dan jauh dari dosa.
  2. Kedua, Ketika sang hamba sudah sedemikian intim bersama Allah dan jauh dari apapun selain-Nya, yakni pengingkaran-pengingkaran dan bisikan-bisikan yang menyibukkannya.
  3. Ketiga adalah hilangnya pandangan tentang ‘Uns karena ada rasa segan, kedekatan dan keagungan bersama ‘Uns itu sendiri. Maksudnya sang hamba sudah tidak melihat ‘uns itu sendiri.
9.      Musyahadah
Musyahadah menurut imam Al-Junaidi adalah jenis pengetahuan tentang alam ghaib dengan media mata batin (al-asrar). Dengan bahasa  lain “ia adalah penjangkauan alam ghaib dengan medium kebeningan cahaya yang masuk kedalam hati sebagai buah dari kebersihan hati dari segala sesuatselain Allah swt.(al-aghyar).dan konsentrasi himmah kepada Allah swt.
Dalam perspektif tasawuf musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat dengan mata kepala. Hal ini berarti dalam dunia tasawuf seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Musyahadah dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan hamba dengan Allah. Swt.
[10]Amr bin Utsman al-Makky r.a mengatakan bahwa cahaya-cahaya yang melingkupi qolbunya, tanpa adanya tutup dan faktor yang memutus di celahnya. Sebagaimana perkiraan dalam kilatan yang bersambung. Seperti malam yang gelap dilampaui cahaya, dan cahaya itu tidak terputus,maka terjadilah cahaya siang. Begitupun qolbu, apabila keabadian Tajalli tampak terus-menerus, akan menjadi siang yang nikmat, tiada malam sama sekali.
Para sufi bersyair:
Malamku, dengan Wajah-Mu terang benderang
Dan kegelapannya merambah manusia
Manusia berada dalam kegulitaan,
Sedang kami ada di cahaya benderang siang
“Seorang hamba tidak sah ber- musyahadah sepanjang masih hidup, Apabila subuh telah terbit tak perlu lagi lampu” (An-Nury)
ketika terang subuh tiba, beredarlah cahayanya, dengan cahayanya
cahaya-cahaya gemerlap bintang,
cahaya tertelan gelas,
jika saja tertimpa bara karena menelannya
terbanglah secepat-cepatnya.
Mereka berjalan, namun tidak tetap, tidak teratur dan tidak ada pengaruh.

10.  YAQIN

Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, Hakqqul Yaqin adalah tahapan dalam pendirian seseorang dalam pandangan Musyahadahnya (penyaksiannya) kepada Allah Swt.
Di dalam Ilmul Yaqin segala pengetahuan ilmu telah diliputi dengan Ilmu Allah sehingga apapun amaliah maupun ubudiyah itu semua menunjukkan dari pada lautan Ilmu Allah Ta’ala.
Di dalam Ainul Yaqin, tatkala seseorang ‘arifiin’ telah melihat sesuatu amalaiah dan ubudiyah diliputi oleh Ilmu Allah kemudian ia menyaksikan bahwa di dalam gerak dan diam (lelaku) itu adalah saksi Hidupnya Allah Ta’ala, yang menunjukkan adanya Allah Ta’ala sebagai tujuan hidupnya. dengan Merasakan dan menyadari gerak dan diam, suara dan perkataan itu adalah saksi hidupnya Allah Ta’ala maka sama halnya ia merasakan dan menyadari kehadiran Allah Ta’ala dekat sekali dengan dirinya. “Bukan menghadirkan Allah” akan tetapi menyadari bahwa “Allah senantiasa Maha Hadir atas dirinya dan sekalian Alam meliputi tiap-tiap sesuatu”. “Wahuwa Ma’akum Ainama kuntum” (Dia Allah serta kamu di mana kamu berada).
Haqqul Yaqin, adalah kemantapan dalam pendirian yang kokoh setelah ia mengetahui kemudian ia melihat dengan penyaksian lalu kemudian tertanam sedalam-dalamnya pada dirinya bahwa : “Segala sesuatu apapun yang terlihat, tidak ada melainkan yang ada ilmu Allah SWT. Segala sesuatu yang terdengar tidak ada melainkan kalimat Allah swt., Dan tidak ada yang di terasa atau pun dirasakan melainkan sirrullah (ZATULLAH)”.
Setelah semua perjalanan dan tahapan itu misra/meresap pada diri, maka Allah akan JAZBAH dirinya sehingga sampailah ia pada maqom “KAMALUL YAQIN”
Demikianlah makalah kami kurang dan lebih kami mohon maaf kepada Allah marilah kita sama-sama mohon ampun, semoga bermanfaat sekian. Terimakasih.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
ahwal merupakan suatu keadaan seorang sufi semasa ia menjalani maqamnya. Dimana keadaan tersebut merupakan oleh kekuasaan Allah swt. dan anugerah-Nya, bukan di sebabkan oleh usahanya sendiri. Ahwal terdiri dari beberapa macam, diantara macam-macam hal yaitu : muroqobah,khauf,  roja’, syauq, mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin.

3.2 Saran

Macam-macam pengertian diatas  diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik itu pemahaman tentang Allah, keridhaanNya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah.


[1]www/http. Amar Fasyini,.Pengertian Maqamat dan Ahwal.(Blogspot.com) senin, 3 mei 2010, pukul 22:04
[2] Prof.Dr.H.Abuddin Nata,M.A. Akhlak Tashawuf.(Jakarta:Rajawali Press,.2012) hal. 204
[3] Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj.,Tashawuf Islam dan Akhlak.(terj.) Karman As’at Irsyadi dan Fakhri Ghazalli dari judul asli . Tashawuf Al-Islami Wa Al-Akhlaq.(Jakarta: Azmah cet 1. 2011). Hal. 71
[4] Ibid., hal 87
[5] Dr. Perdamaian, M.A,. Akhlak Tashawuf,.(Pekan Baru: Unri Press,.2010). hal 130
[6] www/http. Amar Fasyini .ahwal dalam akhlak tashawuf.(blobspot.com) selasa , 13 februari 2013,. Pukul 09.52
[7] Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj,.opcit,. hal.92
[8] Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj,. Opcit.  hal 93
[9] www/http.Muhammad Syahid Ramadhani.,pengetian al-maqamat dan al-ahwal.(blogspot.com) jumat, 16 november 2012. Pukul 04:23
[10] www/http.Amar Fasyni.opcit.. senin, 3 mei 2010, pukul 22:04

Komentar